Monday, April 25, 2016

, , , , , ,

[OPINI] Kartini Masa Kini


21 April menjadi tanggal yang bersejarah bagi warga negara Indonesia khususnyabagi kaum perempuan. Karena pada tanggal tersebut adalah hari dimana R.A. Kartini dilahirkan. Seorang Srikandi Indonesia yang telah berjasa bagi para perempuan Indonesia yang saat itu berada dalam kondisi ‘terjajah’, terjajah karena kebodohan, terjajah karena pengekangan, terjajah karena ketidakadilan.

Kartini menyadari bahwa cara untuk keluar dari kegelapan ini adalah dengan pendidikan. Hanya ilmu yang mampu mengeluarkan para perempuan saat itu  menuju cahaya terang benderang. Kartini berupaya mengangkat derajat perempuan saat itu melalui pendidikan. Pendidikan yangdapat mengembalikan kemuliaan seorang perempuan. Kartini mulai membuka sekolah-sekolah untuk para perempuan, menulis surat untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, menulis buku untuk mewujudkan visi besarnya. Atas berkat dan rahmat Allah S.W.T, Kartini mampu mewujudkan visi besarnya.

Banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari perjuangan seorang Kartini. Tanggal 21 April semoga tidak hanya kita ingat danmengisinyadengan seremonial belaka, dengan mengadakan kontes kebaya dari mulai anak-anak sampai ibu-ibu tetapi seharusnya bisa lebih dari itu. Semangat perjuangan Kartini adalah ruh utama yang harus kita fikirkan, kita tumbuh kembangkan dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-sehari.

Semangat untuk memiliki visi perbaikan yang besar, semangat untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi, semangat untuk menjadi pionir kebaikan yang mampu memberikan manfaat bagi sesama. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya.Ketiga hal inilah yang paling krusial yang harus kita tumbuh kembangkan dalam diri.

Pada masa sekarang ini, dimana emansipasi perempuan telah terbuka lebar, akses pendidikan dan perkerjaan bukanlah hal yang sulit untuk diraih oleh para perempuan. Tidak sedikit perempuan yang mampu meraih jenjang pendidikan tinggi dan pasca lulus mengisi pos-pos penting didalam pemerintahan, perusahaan, perbankan, dan lainnya. Namun tantangan bagi para perempuan saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan semua peransebagai seorang perempuan. Menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, dan sebagai anggota masyarakat.

Sedikit cerita,pernah saya menjumpai sebuah keluarga dengan seorang ibu yang dapat dikatakan ‘wanita karir’. Setiap saya mengunjungi rumahnya untuk mendampingi anaknya belajar, saya tidak pernah menjumpai ibunya disana, dan hanya menjumpai ayahnya, kakaknya dan rewangnya. Ketika saya bertanya, “dik, mama mana ya?”, seringnya adiknya menjawab “belum pulang mba, lagi kerja”.Ketika pun sudah pulang, si adik kecil biasanya hanya menunjukkan kertas yang berisi nilai-nilai hasil quis/mid test/uas kepada mamanya setelah itusi adik balik cerita kesaya, “mba, saya ditegur mama karena nilai/peringkat saya dikelas turun”.

Kalau saya amati pola didik yang seperti itu baik secara langsung ataupun tidak  langsung dapatmempengaruhi karakter anak. Anak menjadikan orientasi belajarnya adalah hasil, bukan proses. Setiap kali saya mengajarinya, seringnya saya diminta mengisi pekerjaan rumah yang dibawa dari sekolahnya. Beberapa kali saya ajak belajar bersama, tetapi seringnya hanya bertahan sebentar, kemudian si adik bilang “malas ah” dan menyuruh saya yang melanjutkannya.Pernah saya bertanya “dik, mama kerja apa ya, sepertinya kok sibuk sekali?”, si adik menjawab “kontraktor mba” dan ternyata waktu itu juga mamanya dicalonkan sebagai caleg dalam pemilihan legislatif. Dalam hati saya bergumam “oh..pantesan sibuk sekali”.Kemudian saya bertanya lagi “kalau ayah?”, adik menjawab “PNS Rumah Sakit”. Jadi selama saya memberikan les privat yang sering saya temui adalah ayahnya dan rewangnya (pembantunya). Sampai saat terahir saya mengajar disana pun saya tidak pernah menjumpai ibunya. Dari kasus ini saya mengambil kesimpulan, adanya ketidakoptimalan peran seorang ibu. Begitupun sebagai anggota masyarakat karena kesibukan dalam dunia pekerjaan yang ia geluti.

Kasus yang kedua saya ingin bercerita tentang seorang ibu rumah tangga yang sehari-seharinya berada dirumah. Setiap harinya beliau mengisi waktunya untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga mulai dari memasak, mencuci, mengepel, mengurus anak dan suami. Namun kebermanfaatan terhadap lingkungan sekitarnya masih kurang. Hal ini terjadi bukan karena ke-alpaan masalah dalam lingkungan tersebut namun karena belum terbentuknya visi perbaikan dalam diri, kepedulian sosial yang masih kurang dan semangat kebermanfaatan yang masih belum tertanam. Si ibu ini masih berada dalam zona nyaman (comfort zone), yang penting keluargaku hidup aman, tentram, sejahtera.

Kasus yang terahir yang akan saya ceritakan yaitu kisah seorang ibu yang mampu menyeimbangkan perannya sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat. Si ibu ini bisa dikatakan ‘Kartini Masa Kini’. Semoga saya tidak berlebihan menyebutnya sebagai kartini masa kini.

Siapa mereka? Mereka adalah para perempuan ‘inspirator kebaikan’. Mereka mampu menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi keluarganya dan mereka mampu menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Mereka menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Mereka yang mengajari anak-anaknya mengenal huruf hijaiyah, mengejanya satu demi satu dikala kecil dengan penuh kesabaran, sampai si anak lancar membaca al qur’an. Mereka yang dengan sabar menemani anak-anaknya bermain, merapihkan mainan setiap harinya. Mereka yang selalu menyempatkan diri membacakan buku untuk mengajarkan dan menanamkan akhlakul karimah, mengenalkan dunia ini dengan sebenar-benarnya. Mereka yang tidak bosan menjawab pertanyaan demi pertanyaan si anak yang sedang ingin mengetahui banyak hal. Mereka yang dengan sabar mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah ada selesainya. Mereka yang dengan ikhlas melayani suaminya. Mereka yang dengan ikhlas dan sabar membersamai keluarganya secara totalitas. Namun kesibukan sebagai ibu dan istri, ia tidak melupakan akan perannya sebagai anggota masyarakat.

Kartini masa kini adalah mereka para perempuan yang produktif.Dimana setiap harinya mereka berupaya untuk menebar kebaikan. Ada seorang ibuyang mengoptimalkan hari-harinya untuk menebar ilmu dengan mengisi ta’lim ibu-ibu, dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Rumahnya hampir tidak pernah sepi dari orang-orang, entah yang datang untuk pengajian atau untuk membaca dan meminjam buku di perpustakaan rumahnya. Beliau berprinsip kalau mau hidup kita barokah, maka berbuatlah banyak kebaikan untuk orang lain. Suatu hari suami si ibu tersebut habis gajian, setelah itu uang tersebut dipos-pos kan untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Setelah dibagi-bagi, tersisalah sejumlah uang maka dengan bijaknya si suami mengatakan ‘ini uang diperuntukkan bagi siapa yang membutuhkan’. Dan Qodarullah, beberapa waktu kemudian ada orang yang meminjam uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dibalik suami yang hebat, ada istri yang hebat dibelakangnya.

Ada Kartini masa kini, dimana ia mendirikan Lembaga Tahfidz Qur’an (LTQ) diperumahannya sebagai wadah pendidikan qur’ani bagi para ibu/ calon ibu.Sehingga kelak akan terlahir generasi qur’ani.
Ada Kartini masa kini, seorang ibu yang berjihad lewat tulisannya dengan menerbitkan sebuah buku, buku-buku parenting yang diharapkan mampu mencerdaskan dan membuka cakrawala berfikir dan bersikap dengan benar dalam pengasuhan anak. Selain itu, si ibu juga giat mengisi seminar parenting keberbagai daerah untuk mencerdaskan para ibu.

Ada kartini masa kini, seorang ibuyang membuka PAUD disekitar perumahannya, dengan visi ingin memberdayakan ibu-ibu perumahan supaya lebih produktif dalam mendidik anak-anak usia dini. Ada Kartini masa kini yang membuka sekolah alam untuk menerapkan kurikulum pendidikan ala Rasulullah Muhammad S.A.W.

Terakhir, ditutup dengan kisah seorang ibu yang memiliki visi sederhana yaitu menginginkan rumahnya tidak pernah sepi dari orang-orang. Dengan visi sederhana namun dalam ini, si ibu mengajak tetangganya untuk mengumpulkan dan  mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat seperti tas, dompet, sepatu dan lainnya. Selain berniat untuk mengatasi masalah sampah, beliau juga ingin mengembangkan potensi para ibu disekitar rumahnya.Beliau juga merintis bimbingan belajar bagi anak-anak yatim piatu dirumahnya. Maka tak heran setiap hari ada saja orang yang bertamu kerumahnya. MasyaAllah..



Inilah kartni masa kini, mereka perempuan pelopor inspirator dan penggerak kebaikan.Mereka mampu menyeimbangkan peran mereka sebagai perempuan. Semoga kebaikan-kebaikan mereka mampu menginspirasi kita semua,untuk menjadi perempuanpelopor inspirator dan penggerak kebaikan.
Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.
Mari bersemangat menjadi ‘Kartini Masa Kini’.

NOTE : Berusaha Mengambil sisi positif, dengan mengesampingkan pro-kontra yang ada

Share:  

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah sudi berkunjung. Jika berkenan mohon tingalkan komentar terkait tulisan atau tampilan blognya. Jika dirasa info ini bermanfaat dan ingin berlangganan silahkan follow blog saya ya. Tolong jangan meninggalkan link hidup. Semoga bermanfaat.