Tuesday, May 10, 2016

Generasi Cemerlang itu Berasal Dari Sebuah Keluarga



Banyak orang tua yang keliru dalam memahami pendidikan anak adalah tanggung jawab guru di sekolah. Itulah mengapa ketika anak-anak memasuki usia sekolah, seakan-akan  tanggung jawab mereka dalam hal pengajaran dan mendidik sudah beralih tangan kepada pihak sekolah. Pada akhirnya keberhasilan dan kegagalan seorang anak juga seakan-akan menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Pada kenyataannya sekarang, pendidikan di sekolah sampai saat ini masih menjadi uji coba dengan kurikulum yang sering bergunta ganti. Kurikulum sekolah yang masih mengutamakan  aspek kognitif sebagai capaian keberhasilannya. Sehingga, tidaklah heran banyak siswa yang menempuh berbagai macam cara untuk meraih nilai yang tinggi. 

Kejujuran sudah menjadi barang yang langka dikalangan siswa siswi saat ini karena memang pendidikan akhlak tidak menjadi prioritas dalam pencapaiannya. Pendidikan yang seperti ini sejatinya melahirkan generasi yang rusak. Pendidikan sekolah yang lebih dominan pada aspek kognitif, menjadikan para orang tua sibuk mengirimkan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga bimbingan belajar profesional diluar sekolah atau memanggil guru les privat ke rumah. Mereka bangga ketika anak nya meraih nilai atau prestasi yang tinggi. Keberhasilan pendidikan sekolah  hanya dinilai dari prestasi diatas kertas saja. Tak heran kalau saat ini bangsa indonesia mengalami krisis pemimpin yang jujur dan amanah. Masihkah mengandalkan pendidikan sekolah sebagai satu satunya pendidikan?

Sejatinya pendidikan yang utama dan pertama adalah pendidikan keluarga, dengan guru utama ayah dan ibu. Belajar dari orang tua dan keluarga pilihan Allah yaitu generasi para nabi, pendidikan keluarga seharusnya sudah terprogram jauh sebelum anak itu lahir yaitu dengan berdo’a dengan sungguh-sungguh. Seperti kisah permintaan Nabi Ibrahim As yang menghasilkan Nabi Ismail As, Ishaq As, dan Nabi-Nabi lainnya hingga Nabi Musa As dan Isa As yang terdapat dalam Q.S AS-SAFFAT (100): Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang saleh. Kemudian Allah jawab dalam ayat berikutnya Q.S AS-SAFFAT (101): Maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (ismail). MasyaAllah sungguh do’a Nabi Ibrahim adalah do’a yang visioner yang menembus ruang, waktu dan zaman. Milikilah do’a yang visioner untuk calon anak-anak kita kelak karena Do’a adalah senjata orang mukmin. 

Keluarga layaknya sebuah sekolah, sekolah peradaban yang mampu menghasilkan anggota keluarga yang beradab. Dalam sebuah sekolah, penyusunan visi misi serta kurikulum pendidikan keluarga sangat penting untuk dilakukan. Termasuk pula didalamnya terdapat pembagian peran, tugas dan tanggung jawab. Pembagian peran dalam sebuah keluarga yaitu ayah sebagai kepala sekolah, ibu sebagai guru dan anak-anak sebagai murid. Ayah yang merumuskan kurikulum dan mengawasi keberjalanan pelaksanaannya sedangkan ibu sebagai pelaksana teknis yang setiap harinya berhadapan langsung dengan murid. 

Kurikulum pendidikan keluarga yang disusun harus mengantarkan anak-anak menemukan Hakikat Belajar yang sesungguhnya. Hakikat belajar dimana dengan bertambahnya kapasitas intelektual, semakin anak-anak mengenal kebesaran Allah, semakin merasa kerdil sehingga kecintaan terhadap Allah bertambah dan munculah ketundukan dan kekhusukan dalam beribadah. Hakikat belajar, dengan bertambahnya sebuah ilmu semakin membuat anak-anak peka terhadap sebuah masalah. Menjadikan anak-anak memiliki kecerdasan sosial yang tinggi sehingga kepekaan ini menjadi bekal bagi anak untuk mengambil peran kekhalifahan dalam kehidupan. Pembelajaran yang menjadi tambahan informasi yang pada akhirnya akan berbuah keluhuran moral sebagai bekal kehidupan yang menjadikan anak-anak hidup bermartabat dalam sebuah peradaban dan semangat membangun peradaban yang bersendikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. 

Kurikulum keluarga yang seperti apakah yang dapat digunakan untuk mencapai Hakikat Belajar seperti yang telah disampaikan diatas ? Sekilas mencoba berkaca dari generasi para sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Kita lihat Sosok Zaid bin tsabit yang ketika usia 13 th, ia mampu menulis wahyu, dalam waktu 17 malam ia mampu menguasai bahasa suryani sehingga menjadi penerjemah Rasulullah Muhammad SAW. Zaid hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi al qur’an. Usamah bin zaid, pada usia 18 th memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti abu bakar dan umar. Muhammad al fatih, usia 22 th mampu menaklukkkan konstatinopel ibukota byzantium. Bagaimana dengan kondisi anak-anak kita pada usia 13 th, 18 th dan 22 th ? Dapatkah generasi terbaik tersebut terulang kembali dimasa sekarang ? Semoga kita bisa mengambil pelajaran, pelajaran dalam membentuk generasi terbaik lewat kurikulum keluarga. 

Secara singkat ada beberapa aspek pendidikan yang harus dimasukan dalam kurikulum pendidikan keluarga. Pertama, pendidikan agama menjadi pondasi awal yang harus diajarkan. Pendidikan agama dimulai dengan mengajari anak konsep agama dan character building. Hal terpenting yang harus dilakukan oleh orang tua dengan ilmu agama ini adalah menjaga fitrah anak supaya selalu berada pada fitrah penciptaannya yang suci, seperti mengajari anak terkait akhlak berinteraksi dengan lawan jenis, memahamkan anak untuk menjauhi diri dari zina mata, tangan dan kaki, dll. Dengan ilmu agama ini anak dididik untuk memiliki daya imunitas yang tinggi sehingga ketika anak berinteraksi dengan dunia luar, anak tidak terpengaruh. Pendidikan tentang aqidah, ibadah, akhlak mulai dilakukan sedari kecil. Selain itu sedari kecil anak mulai ditanamkan kecintaan terhadap Allah, Rasulullah, Kitab suci Al Qur’an serta berjuang dijalanNya. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan membiasakan diri menghafal qur’an dan membacanya setiap hari. Pendidikan agama menjadi prioritas utama yang harus menjadi perhatian orang tua karena agama menjadi pijakan yang akan mewarnai perjalanan hidup dan membingkai pendidikan yang lainnya.  

Kedua, pendidikan kreatifitas yang bertujuab untuk membekali anak dengan keterampilan. Manusia yang survive dimasa yang akan datang adalah manusia yang kreatif, inovatif dalam membuat terobosan-terobosan yang baru dan solutif terhadap permasalahan yang ada. Dengan kreatifitas inilah semoga banyak kemanfaatan yang akan diberikan. Pendidikan kreatifitas dilakukan dengan mengajarkan berbagai macam hal kepada anak. Mengajarkan ketrampilan membaca, menulis, crafting, melihat video edukasi, melakukan kunjungan belajar, dll. Setelah orang tua mengajarkan banyak hal kepada anak, saatnya orang tua melihat dan mengamati bakat anak kemudian mengembangkannya. Mengembangkannya dengan memperdalam passion yang dimiliki anak dengan berguru kepada ahlinya, magang, tour kebeberapa tempat. Memperdalam passion juga dapat dilakukan dengan memberikan tugas kepada anak berupa science/ art project atau craft project yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Sampai akhirnya anak menjadi expert dalam bidang tertentu dan kelak ini menjadi bekal bagi anak untuk menjalankan peran kekhalifahan. Pendidikan minat/ bakat ini penting untuk dilakukan, karena fenomena saat ini banyak anak yang merasa bingung dan galau ketika menginjak usia baligh atau sampai selesai jenjang pendidikan tinggi mau membawa hidup mereka kemana. Secara biologis mereka sudah baligh tetapi secara mental mereka masih menjadi generasi yang bingungan, tidak mandiri dan masih bergantung dengan orang tua. Tugas orang tua yang tidak kalah penting lagi adalah menyiapkan anaknya sebelum aqil baligh

Ketiga, pendidikan sosial untuk melatih anak untuk peka dengan lingkungan sekitar. Pendidikan ini bisa dilakukan dengan mengajak anak melihat langsung problematika sosial dimasyarakat misalnya berkunjung ke panti asuhan, anak jalanan, pemukiman yang tidak layak. Keempat, mendidik anak untuk disiplin, mandiri dan bertanggungjawab. Pendidikan disiplin bisa dilakukan dengan memberikan teladan dan penerapan aturan yang telah disepakati bersama disertai reward serta punishmentnya. Selanjutnya untuk mendidik anak supaya mandiri dan tanggung jawab, bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anak untuk melakukan sesuatu secara mandiri, misalnya sejak kecil mengizinkan anak untuk makan sendiri, mandi sendiri, membereskan mainan sendiri, dll. Ketika anak sudah besar bisa mengajari anak berdagang, misalnya orang tuanya yang membuat/ menyediakan makanan kemudian anak yang menjualnya. Terahir, membangun iklim keterbukaan dalam sebuah keluarga. Keluarga tempat bertanya, keluarga tempat berbagi yang pertama dan utama. Sampaikan apa yang menjadi harapan dan keinginan orang tua serta apa yang menjadi harapan dan keinginan anak. Semoga akan lahir generasi cemerlang dari pendidikan keluarga yang visioner. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin. Allahu’alam Bishowab.

1 comment:

Terima kasih telah sudi berkunjung. Jika berkenan mohon tingalkan komentar terkait tulisan atau tampilan blognya. Jika dirasa info ini bermanfaat dan ingin berlangganan silahkan follow blog saya ya. Tolong jangan meninggalkan link hidup. Semoga bermanfaat.