Tuesday, October 11, 2016

, , , ,

Belajar Parenting Dari Bu Septi Peni Wulandani: Menjaga Fitrah Anak


Assalamu'alaikum Bunda, hari ini saya mau berbagi sedikit cerita tentang hal yang baru saja saya baca yaitu menjadi ibu profesional ala Ibu Septi Wulandani. Tentu bunda tidak asing lagi kan dengan ibu hebat yang satu ini? Beliau adalah Founder Institut Ibu Profesional (IIP) dari Kota Salatiga. Dari bacaan tersebut, ada salah satu point penting yang saya rasa sangat perlu untuk kita renungkan bersama yaitu  bagaimana menjaga fitrah anak. Bunda, yang harus kita pahami bersama adalah setiap anak yang terlahir ke dunia ini adalah anak hebat, setiap anak yang terlahir ke dunia ini adalah anak yang suci, tetapi dalam keberjalanannya fitrah ini hilang atau bahkan tenggelam, karena pengaruh orang tua, sodara, teman, lingkungan sekitar, dan sebagainya. Maka dari itu mari kita belajar bersama, sebelum terlanjur banyak kesalahan yang kita perbuat dikemudian hari sebagai orang tua.


Fitrah Iman
Menurut Bu Septi, sejak lahir anak itu sudah membawa fitrah iman. Saat anak berusia empat bulan dalam kandungan bunda, Allah meniupkan ruh dalam tubuh anak kita dan ia bersaksi akan Rabb-Nya  dan akan selalu membutuhkan Sang Pencipta. Suatu hari pernah ada yang bertanya kepada saya sesaat sebelum ngajar TPQ, "kenapa yaa, pas anak-anak, mereka mudah sekali diajak ngaji, sholat, tapi setelah besar jadi anti pati dan ogah-ogahan?". Bisa jadi dalam keberjalanannya, fitrah iman ini menyurut karena lingkungan yang tak kondusif bagi iman si anak.

Fitrah Belajar
Setiap anak yang lahir ke dunia, ia mempunyai  fitrah belajar. Mereka mempunyai prinsip don't touch me, i love to learn. Anak-anak adalah pembelajar sejati, mereka sangat senang sekali mempelajari segala hal untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Saya sendiri sangat merasakan hal ini beberapa bulan terahir. Anak saya lagi senang-senangnya mengeksplor segala macam hal yang ada di rumah. Semua mainan, koran, peralatan masak, buku-buku, pakaian, detergen, pembersih lantai, tak ada yang luput dari genggaman anak saya. Rumah berantakan, kertas mainan berserakan itulah kondisi sehari-harinya. Tapi tak apa..itulah dunianya, anak sedang belajar. Saya takut ketika terlalu sering mengatakan jangan, justru akan membunuh fitrah belajar anak. Asal tidak membahayakan si anak, sok lah mau ngapa-ngapain juga. Walau kadang sekali waktu gemes, ku coba menenangkan diri biar tidak menjadi emosi yang berkelanjutan. Jadi kalau ada fenomena saat ini, anak males belajar, bisa jadi karena dulunya kita sering melarang dia melakukan ini dan itu. Allahu'alam

Fitrah Bakat/ Minat
Iya, setiap anak yang yang terlahir ke-dunia itu memiliki bakat yang unik. Ia memiliki sifat bawaan, yang kelak akan menjadi panggilan hidup dan panggilan spesifiknya dimuka bumi. Jadi kita sebagai orang tua, hanya bertugas untuk menggali ke unikan tersebut dan mengembangkannya sehingga mereka ahli dibidang tersebut. Karena tak jarang lho orang tua memaksakan kehendak mereka sendiri untuk memuaskan keinginannya. Ada orang tua yang ambisius menginginkan putra putrinya jadi dokter, polisi, guru, padahal anaknya memiliki bakat dibidang seni. Maka tak heran kalau saat ini banyak anak yang tidak tahu akan dirinya sampai mereka memasuki masa akhir baligh. Bahkan ada juga yang masih tersesat dijalan hidup yang bukan passionnya sampai ia berumah tangga. Pertanyaannya bagaimana kita memperlakukan anak selama ini?

Fitrah Perkembangan
Setiap anak sejak lahir memiliki masa-masa tahapan perkembangan masing-masing. Tak ada yang perlu digegas lebih cepat atau dicap sebagai yang lambat. Terkadang kita sendiri sebagai orang tua terlalu panikan, saat melihat anak orang lain lebih cepat perkembangannya dibanding anak sendiri. Si ini udah tengkurep, ko anakku belum? Si ini udah merangkak, ko anakku belum? Si ini udah berjalan, ko anakku belum? Nah hal ini tak perlu dibanding-bandingkan, namun jangan juga terlalu cuek dengan perkembangan anak kita. Selagi pertumbuhannya masih sesuai dengan standar kesehatan pertumbuhan anak, tak perlu panik. Caranya biar tahu? banyak mbaca yaa bund. Tugas kita sebagai orang tua hanya perlu menstimulasi anak secara disiplin, tanpa perlu ikut-ikutan menentukkan ranah hasil karena hasil adalah ranah Allah S.W.T. Teringat pas anak saya diusia 8 bulan belum bisa merangkak, saya baca buku panduannya, anak merangkak dimulai usia 7-9 bulan, maka saya dan suami mulai menstimulasi dia. Mulai dari nonton video bayi merangkak dalam beberapa versi sampai memberi contoh merangkak yang baik, Alhamdulillah di usia 9 bulan anak saya bisa merangkak. Walau sebenarnya, fase ini  tidak semua anak melaluinya tapi kami sebagai orang tua ingin mengikhtiarkan yang terbaik buat anak kami. Dan akhirnya kami pun yakin bahwa "ikhtiar (usaha) itu tak akan menghianati hasil". Tetap semangat dan tetap berusaha :)
   
Dalam keberjalanannya, keempat fitrah tersebut harus seimbang satu sama lain. Semoga kita sebagai orang tua mampu mendampingi perjalanan hidup anak-anak kita dengan sebaik mungkin untuk menjaga keempat fitrah tersebut.

Sebelum kita menuntut banyak hal kepada anak-anak kita, mari tunaikan dulu kewajiban kita sebagai orang tua dengan sebaik mungkin. Kalau kita mengenal ada anak durhaka, sebenarnya orang tua juga banyak yang durhaka kepada anak-anaknya baik secara sadar ataupun tidak yakni lewat kesalahan dan kekurangtepatan dalam pendidikan dan pengasuhannya, Allahu'alam Bi Showab.

Mari sama-sama intropeksi diri kita masing-masing sebagai orang tua. Wassalamu'alaikum. 





Share:  

14 comments:

  1. Tetap semangat belajar parenting ya. kadang saya secara tak sengaja merasa kok anak pertama, kedua dan ketiga memiliki kemampuan yang beda. mengapa tidak seperti kakaknya, dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, ilmu itu merupakan salah satu sarana pengingat kita disaat khilaf atau salah

      Delete
  2. Terima kasih banyak atas sharingnya ya mba. Semoga setelah memikah dan punya anak nanti, aku jadi bisa mengaplikasikan ilmu mengenai fitrah anak yang mba jabarkan di atas ini. Impianku selain menjadi seorang professional writer saat ini, juga menjadi ibu dari anak anakku kelak, sehingga jadi anak anak yang terbaik untuk dirinya, keluarganya, terutama baik agamanya. Aamiin ya rabbal alamin. Doakan aku ya mba.

    Kudoakan mba juga bisa demikian. Aamiin ya rabbal alamin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah..mulia sekali niatnya mba. Semoga Allah kabulkan do'a mba. Saya pun sama mba, bercita-cita jadi penulis profesional dan ibu profesional mba. berkarya dari rumah. Aamiin

      Delete
  3. Betul Mbak, setiap anak beda-beda perkembangannya yak. Anak saya yang pertama cepat hapal sesuatu. Yang kedua saya sempat waswas buta warna..krn waktu kecil tiap kali ditanya warna apa malah balik tanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, setiap anak itu unique, punya bakat masing-masing..:)

      Delete
  4. "Kullu mauludin yuuladu 'alal fithrah, fa-abawaaHu yuHawwidaaniHi aw yunashshiraaniHi aw yumajjisaaniHi"


    Btw, sudah gabung dengan grup WA Institut Ibu Profesional mbak? Yang Semarang sempat vakum tahun2 terakhir, tapi sekarang mulai ditata ulang lagi nih, akan ada kulwap2 lagi insya Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum mba..mau dong mba d add.msh boleh ndak?
      dulu pas ada kuliah vaksinasi, sy malah ikut luar jawa mba

      Delete
  5. Mari introfeksi. Makasih sharingnya ya mbak, sangat bermanfaat ;))

    ReplyDelete
  6. Anak itu unik, dan yang pasti mudah belajar. Kita sebagai orang tua wajib support

    Reksadana Online

    ReplyDelete

Terima kasih telah sudi berkunjung. Jika berkenan mohon tingalkan komentar terkait tulisan atau tampilan blognya. Jika dirasa info ini bermanfaat dan ingin berlangganan silahkan follow blog saya ya. Tolong jangan meninggalkan link hidup. Semoga bermanfaat.