Sunday, November 20, 2016

Perjuangan Siti dalam Merintis dan Membangun Usaha Kecil Menengah (UKM)


Ahad pagi, aku berniat untuk menimba ilmu di Masjid Pondok Pesantren Saubari Bening Hati. Aku pergi kesana hanya berdua saja dengan anakku, Kamila karena Ayahnya sedang ke Luar Kota saat itu. Sesampainya disana, aku disambut temanku, Siti. "Mba, cobain kue bolen pisang sama wingko babat hasil karya ibu-ibu binaanku yuu, enak!", ucapnya. Hadeuh ini anak, baru nyampe udah promosi, batinku. Dia sejak kuliah memang suka bisnis kulineran. "Dimana Siti?", tanggapku. "Di meja registrasi mba, kalau enak dan mau pesan bisa lewat Siti mba", lanjutnya. Sayangnya pas registrasi, aku dapat snack yang berbeda bukan kue yang Siti promosikan tadi. hm..belum rezekinya sepertinya.

Kajian ilmu selesai. Diluar hujan cukup deras, akhirnya aku putuskan untuk menunggu hujan reda, karena aku nggak bawa mantel saat itu. Jarak masjid-rumah pun cukup jauh. Terdengar ibu-ibu disebelahku sedang mencoba dan membicarakan kue yang Siti sebut tadi yaitu bolen pisang dan wingko babat. Sepertinya mereka puas dengan teste tu kue. Tetiba, ada salah seorang ibu menghampiriku dan memberi ku wingko babat. Rezeki memang tak lari kemana! he..hm, enak juga batinku. Aku semakin penasaran siapa yang memproduksi kue ini. Akhirnya ku chat temanku, Siti.

Setelah ngobrol sana sini, aku semakin kagum dengan temanku ini. Ternyata bolen pisang dan wingko itu diproduksi oleh ibu-ibu pengajian yang dia bina. Ada 6 orang ibu-ibu yang Siti bina. Siti ingin membekali ibu-ibu bukan hanya ilmu agama tetapi juga keterampilan, sampai ibu-ibu tersebut bisa mendapatkan penghasilan dari keahliannya. Siti tersentuh dengan aktivitas ibu-ibu ini sehari-harinya. 

Terkadang mereka mengambil tas setengah jadi dari pabrik secara borongan, lalu dijahit kembali oleh si ibu di rumah. Satu tas kecil dihargai  hanya Rp 400,- saja, kalau agak besar Rp.1000,- dan si ibu seringnya mengambil untung hanya Rp 50 - 100 saja. Tapi MasyaAllah semua ini dijalani dengan sabar, ikhlas dan telaten. Pekerjaan ini juga hanya dilakukan sewaktu-waktu, saat masih ada stock di Pabrik, dan saat waktu luang. Namun banyak juga warga sekitar yang mengerjakan pekerjaan ini, jadi ada persaingan disana. Sistem kerja di parbrik ini juga sifatnya nggak terikat. Suami mereka kebanyakan bekerja di sawah dan terkadang ikut proyek jika ada yang membutuhkan.

Siti mendaftarkan ibu-ibu ini untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh dinas ketahanan pangan. Pelatihan ini dikhususkan bagi warga masyarakat yang memiliki usaha. Awalnya ibu-ibu ini belum punya usaha, tapi Siti tetap semangat untuk mendaftarkan mereka dan membekali mereka dengan keterampilan yaitu membuat pisang bolen dan wingko babat. Siti mulai mencari resep bagaimana membuat pisang bolen dan wingko babat yang enak. Siti juga mulai berguru kepada Chef pisang bolen. Selain itu juga, dulu Siti punya pengalaman serupa yaitu usaha pisang bolen. Namun berhubung sudah agak lama usahanya terhenti karena pasca lulus banyak teman-temannya sudah berpencar ke berbagai kota, akhirnya dia mesti meng-upgrade kembali ilmu dan keterampilan tersebut.

Berbekal ilmu dan keterampilan yang dimiliki, Siti mulai mengajari ibu-ibu resep dan cara membuat pisang bolen dan wingko babat tersebut. Setelah jadi, Siti foto dan mempromosikan hasil karya ibu-ibu tersebut ke beberapa grup medsos yang ia miliki. Siti juga membawa produk tersebut ke Sekolah tempat ia mengajar. Beberapa guru diminta sebagai tester produk pisang bolen dan wingko tersebut. Kemudian meminta guru-guru untuk memberikan testimoni. Alhamdulillah menurut para guru, rasa pisang bolen dan wingko babatnya enak. Selain itu, ibu-ibu pengajian juga menjajakan kue tersebut kepada warga sekitar. Setelah itu malah ada beberapa warga yang ingin ikut gabung usaha ini.
Proses Buat Adonan
Proses Mencetak Pisang Bolen dan Wingko
Packaging Bolen Pisang
Bolen Pisang Siap Order :)
Wingko Babat Siap Order :)
Awalnya yang pesan kue ini sedikit, lama kelamaan semakin banyak. Sekarang setiap dua hari sekali ibu-ibu memproduksi pisang bolen sama wingko babat. Walau belum menemukan pasar yang paten, Siti dan Ibu-ibu tetap semangat untuk memasarkannya baik secara online maupun offline.  

Sampai suatu hari ada  teman Siti yang membaca broadcast dari Siti. Temannya menawarkan Siti, supaya pisang bolen dan wingko ini diajukan ke dinas untuk  mendapatkan izin PIRT (pangan industri rumah tangga). Kebetulan teman Siti ini cukup dekat dengan orang dinas. Alhamdulillah Saat ini dalam proses menunggu pengurusan dan InsyaAllah akhir november ini akan keluar PIRT nya, semoga dilancarkan. Aamiin.

Siti berharap, setelah PIRT nya keluar, pisang bolen dan wingko babat ini bisa menembus pasar yang lebih luas lagi, sampai minimarket, supermarket, dll. Satu box pisang bolen dihargai Rp 18.000,- sedangkan satu box wingko babat dihargai Rp. 20.000,- saja. Cukup terjangkau bukan sobat? yuk diorder :) Oh iya, pisang bolen sama wingko nya berlabel "BRONKENYEN", karena produk ini di produksi oleh ibu-ibu yang berdomisili di Kel. Rowosari, Kec. Tembalang yang terkenal dengan Brown Canyon nya :). InsyaAllah akan ada pelatihan lagi dari dinas ketahanan pangan, Siti akan mengajak warga sekitar yang belum pernah ikut untuk mengikuti pelatihan ini.

Semoga Usaha Kecil Menengah (UKM) yang sedang dirintis oleh Siti dan ibu-ibu bisa berjalan dengan lancar dan menjadi pintu rezeki baru bagi keluarga mereka. Penghasilan yang meningkat setelah memproduksi pisang bolen dan wingko babat ini, semoga bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Semoga usaha ini terus berkembang dan menjadi besar, sehingga mampu menyerap tenaga pekerja dan dapat menyejahterakan penduduk sekitar. Dengan ini dapat dikatakan UKM mampu menggerakan perekonomian rakyat.

Jangan pernah meremehkan peran UKM ya sobat. Tau kah sobat, saat krisis moneter tahun 1997 hampir membuat 80% perusahaan besar gulung tikar dan melakukan PHK besar-besaran, siapakah yang mampu bertahan saat itu? Dia adalah UKM dengan segala keterbatasannya. Pantaslah jika UKM disebut bidang usaha yang tahan banting.

UKM menjadi sektor usaha yang berperan besar untuk mengurangi angka pengangguran serta berkontribusi terhadap pendapatan daerah dan nasional. UKM berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 88,7% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia, PDB hampir 60% dan berkontribusi terhadap ekspor tahun 1997 sebesar 7,5% (BPS, 2000) dalam (Ardhiansyah, 2016).

Pemerintah dan lembaga donor internasional pun, sangat mendukung terhadap lahirnya UKM-UKM baru di Indonesia, baik dari segi kebijakan, dana sampai fasilitas. Apa saja kah dukungan pemerintah terhadap lahirnya UKM?

- Pemerintah mengembangkan lingkungan bisnis yang kondusif bagi UKM
- Pemerintah mengembangkan lembaga-lembaga finansial, yang dapat memberikan akses terhadap sumber modal yang transparan dan murah bagi UKM 
- Pemerintah memberikan layanan jasa pengembangan bisnis non finansial yang lebih efektif kepada UKM
- Pemerintah membentuk aliansi strategis antara UKM dengan UKM lainnya, dengan usaha besar di Indonesia serta dengan usaha di luar negeri (Ardhiansyah, 2016).

Sekarang tinggal masyarakatnya saja yang harus mencoba melek informasi, memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan pemerintah dengan sebaik mungkin dan berjuang membangun UKM tanpa kenal lelah. Berkembang atau matinya UKM pada era perdangangan bebas seperti sekarang, ditentukan oleh kemampuan bersaing, peningkatan efisiensi serta kemampuan dalam membentuk jaringan bisnis dengan lembaga lainnya.

Mari kita bantu apa yang kita bisa untuk menggerakan UKM ini, apabila belum bisa seperti Siti, mari kita menjadi konsumen yang baik. Cintai dan gunakan produk UKM hasil karya anak bangsa!:) 


Sumber:
Ardhiansyah, B.R. 2016. Peran UKM dalam Perekonomian Indonesia. http://bagusrizkyy31.blogspot.co.id/2016/05/peran-ukm-dalam-perekonomian-indonesia.html. (diakses tanggal 17 November 2016).

“Tulisan ini diikutkan dalam giveaway UKM Sebagai Roda Penggerak Perekonomian Rakyat yang diadakan Agustina D.J"

18 comments:

  1. Perjuangan yang berproses ya Mbak. Keren inspiratif sekali :) Aku sering mbrebes mili baca2 yang kayak gini. Nggak menyedihkan, tapi perjuangannya bikin bergetar :) Sukses lombanya ya Mbak :)

    ReplyDelete
  2. Semoga pisang bolen siti laris manis ya mbak makin sukses Aamiin

    ReplyDelete
  3. semoga usaha Mba Siti semakin maju, amin..

    ReplyDelete
  4. Namanya Bronkenyen 😊😊

    Jadi penasaran.. Aku suka wongko. Hehe.
    Btw d RWku juga mau ada pelatihan dr dinas ketahanan pangan nih.. 😊


    Semoga Mba Siti dan ibu2 binaannya bosa terus berkembang.

    ReplyDelete
  5. Luar biasa nih ya Mba Siti, semangatnya untuk membawa orang lain agar maju ini bener2 layak ditiru. Semoga banyak siti siti lain yg bisa mengangkat kesejahteraan UKM.

    ReplyDelete
  6. Duh, keliatan enak banget itu bolen sama wingkonya Mbaa, kalau dekat mau banget deh pesen =G

    Sosok seperti Mba Siti ini yang sangat diperlukan dikalangan ibu-ibu. Kadang mereka pengen punya penghasilan tambahan tapi nggak tau caranya gimana. Semoga sukses ya buat Mba Siti dan binaannya. Barakallah :)

    ReplyDelete
  7. Kayaknya enak ya mbak bronkenyen nya,, jadi pengen

    ReplyDelete
  8. wah perlu di tiru nih semangatnya...

    ReplyDelete
  9. Waah...jd pengen ngicip bolennya niih... semoga sukses usaha Siti & teman2nya ya mba.. semoga sukses jg di GA ini..

    ReplyDelete
  10. Bolen itu salah satu makanan favorit aku. Jadi pengen nyicip.

    ReplyDelete
  11. aku suka banget pisang bolen...gudluck ya mbak relita....

    ReplyDelete
  12. Semoga makin banyak yang berwirausaha dan pada makmur semuanya...

    ReplyDelete
  13. Waaa jadi mupeng pisang bolehnya mba, mereknya juga lucuu, bronkenyen hihi, sukses ya buat Bu Siti and The gang, keren sangaaat.. semoga makin laris aamiin

    ReplyDelete
  14. Waaa jadi mupeng pisang bolehnya mba, mereknya juga lucuu, bronkenyen hihi, sukses ya buat Bu Siti and The gang, keren sangaaat.. semoga makin laris aamiin

    ReplyDelete
  15. Pisang bolennya looks so lekker mbak :) jadi kangen makan ini waktu di kampung...Sukses buat Bu Siti dan segenap jajarannya yak..salam :)

    ReplyDelete
  16. Daya juang ibu2 memang hebat. Ikut bangga dengan keuletan bu Siti :)

    ReplyDelete
  17. Terimakasih atas partisipasinya, good luck :*

    ReplyDelete
  18. Mampir blognya Icha ah..
    Hamidah dr dulu smp skg emg suka sm bisnis kuliner ya..
    Icha boleh ksh saran ya..setiap keterangan tulisan yg ada di gambar selain kuning bs kah?

    ReplyDelete

Terima kasih telah sudi berkunjung. Jika berkenan mohon tingalkan komentar terkait tulisan atau tampilan blognya. Jika dirasa info ini bermanfaat dan ingin berlangganan silahkan follow blog saya ya. Tolong jangan meninggalkan link hidup. Semoga bermanfaat.