Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film The Power Of Love: Dahsyatnya Kekuatan Sebuah Cinta Hakiki Bagi Jiwa Manusia

Sumber: ChanelMuslim

Assalamu'alaikum..
Semua orang kan kembali pada Allah setelah matinya. Tapi berbahagialah dia yang telah melangkah menuju Allah sepanjang hidupnya (Sayyid Quthb)
"The Power Of Love", film yang mampu menggugah dan menggetarkan iman kembali ketitik puncak. Ya, saya merinding melihat ribuan manusia dari berbagai daerah  tergerak hatinya dan berbondong-bondong menyambut panggilan Allah untuk berjuang membela agamaNya, membela kitab suciNya. Ini adalah panggilan iman. Mereka adalah orang-orang yang melangkah menuju Allah sepanjang hidupnya, InsyaAllah. Dan saya iri :(. Ini baru dalam sejarah Indonesia, baru kali ini saya menyaksikannya.

Diawal film, dimulai dengan cerita seorang jurnalis ternama dari majalah republik bernama Rahmat yang mempunyai pandangan bahwa "Aksi 411" tak lebih hanyalah sebuah Aksi Politik berkedok agama untuk meraih sebuah kekuasaan. Rahmat kerap menulis berita negatif tentang aksi ummat islam ini. Hingga sahabatnya, Adhin sering geram dan menegurnya "kamu ini muslim tapi ko selalu menyudutkan ummat islam!, kalau begini kamu tak lebih layaknya seorang munafik bro!". Dengan rambut gondrongnya dan gaya bicara Adhin yang humoris namun tegas nyaris selalu membuatku dan penonton yang lain tertawa namun nasihatnya tetep kena. 

Tak hanya Adhin, Pimpinan Redaksi Majalah Republikpun dibuat geram oleh tingkah si Rahmat ini dan sudah berulang kali mengingatkannya. Tentu hal pertama yang diperhitungkan adalah citra dari majalahnya. Beberapa kali, perusahaannya kena teror karena ulahnya Rahmat.

Tapi Rahmat ngga mau tahu, karakternya keras dan dia tetap berdiri pada prinsipnya "ini adalah ideologiku, kalau bapak tak suka ya sudah aku keluar!", ucap Rahmat saat pemred dan beberapa rekannya memintanya untuk merubah tulisannya di Majalah. Rahmat merupakan lulusan terbaik Harvard University. Dia kuliah di Harvard melalui jalur beasiswa.

"Islam itu radikal dan tidak punya toleransi. Aksi Damai 411 serta Aksi Damai  212 hanya digunakan sebagai alat untuk sebuah kekuasaan. Dan para pemimpinnya tak lebih hanyalah seorang preman berkedok ulama!", ucap Rahmat kepada Adhin sahabatnya. Spontan Adhin membalas "islam itu peace and love, rahmatan lil alamin,  yang radikal itu otak lu sama gw tapi kalau gw beda, gw radikalis romantis :D". Karakter Rahmat yang keras menjadikannya memiliki banyak musuh.

Suatu waktu Rahmat kaget mendengar kabar dari sebuah telpon yang ia terima, "ibunya meninggal". Dan ia bersegera menuju kediaman orang tuanya di Ciamis. Spontan Adhin yang sedang bersamanya terheran-heran "lho, lu masih punya keluarga? Aku kira lu ngga punya siapa-siapa!". 

Adhinpun akhirnya mengikuti Rahmat menuju Ciamis. Ada perasaan sesal saat Rahmat melihat tubuh ibunya terbujur kaku, dia hanya bisa terdiam & menatapnya. Saat mendekati sang ayah, ayahnya tidak menghiraukan keberadaannya sedikitpun. Ada apakah gerangan?

Sang Ayah, Zainal adalah seorang kyai di kampungnya. Beliau memiliki banyak murid dan kerap mengisi berbagai majelis taklim. Menurut saya, Kyai Zainal merupakan Kyai yang cukup bijak. Suatu waktu pasca kematian istrinya, beliau bertandang dan makan di warung milik Orang etnis Tionghoa. Warungnya sepi, hanya ada Ki Zainal di situ.

 "Ki Zainal, akhir-akhir ini warung saya sepi, kenapa ya, apa karena saya orang tiongh**?", kata ko X. "ah enggak, itumah hanya perasaan ko X saja", sanggah Ki Zainal. Ya, waktu itu isu agama dan etnis mungkin terdengar lagi sensitif bagi beberapa orang. Hal ini dipicu oleh "Statment Oknum Pejabat Negara" yang cukup melukai hati ummat islam. Ummat islam terluka, karena Kitab Sucinya dilecehkan. 

Kyai Zainal yang tak lagi muda saat itu bersemangat akan mengikuti Aksi Damai 212 ke Jakarta dengan berjalan kaki. Sontak, Rahmat melarang dengan keras, "Pak, Bapak ini sudah tua, penyakitan, yakin mau ikut aksi dengan berjalan kaki? Ciamis-Jakarta 300 km pak, bukan jarak yang dekat! Ini konyol! Lagian ini aksi makar, percaya saya, aksi ini dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Dengan mantap Bapaknya menolak, "jangan sembarangan kalau ngomong Rahmat, ini murni aksi solidaritas, aksi untuk membela apa yang menurut saya benar, semua bergerak semata-mata karena cinta kepada Allah dan Al Qur'an. Orang kaya kamu ngga akan pernah mengerti!", balas bapaknya. 

Perjalanan menuju Jakartapun dimulai, dengan komando Abrar. Abrar ini adalah seorang aktivitas rohis dan berniat melanjutkan study ke Universitas Al Azhar, Kairo. Abrar sangat tidak menyukai Rahmat karena tulisan-tulisannya yang selalu menyudutkan ummat islam.

Ki Zainal dalam kondisi sakitnya tetap teguh ikut aksi damai 212. Walau beberapa kali hampir tumbang, namun beliau tetap melanjutkan perjalanan. Rahmat bolak balik membujuk bapaknya untuk berhenti dan mengikutinya pulang, namun omongan Rahmat hanya dianggap angin lalu saja oleh bapaknya.

Salah satu hal yang bikin saya merinding, ketika adzan berkumandang, mereka berhenti untuk sholat, walau ditengah terik matahari, dipinggir sawah sekalipun. Pekikan takbir selalu dikumandangkan dalam setiap derap langkah mereka. Bendera merah putih dan bendera Allah selalu berkibar, menggambarkan bahwa agama dan negara adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipaksakkan.

Setiap orang berlomba-lomba berderma mulai dari memberikan minuman sampai makanan berat, setiap kali peserta aksi damai 212 melewati sebuah kota. Ya inilah ukhuwah, sangat indah bukan?! padahal mereka sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. 

Bahkan peserta aksi 212 disambut dengan sangat baik di sebuah pesantren di daerah yang mereka lewati, untuk sekedar melepas lelah dan dahaga serta mengisi kekuatan sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Di sini Rahmat bertemu dengan anak Kyai Pesantren yang juga mengajar di pesantren ini. "Kamu pasti dari kecil belajar ilmu agama terus yaa, ngga bosen?! ayo dong buka cakrawala, masih banyak hal yang bisa dipelajari di luar sana!", ucap Rahmat. Dengan ramah, anak kyai tersebut menimpali "ilmu Allah itu luas dan tidak akan pernah habis sampai kapanpun juga. Islam itu rahmatan lil'alamiin". 

Ki Zainal geram melihat percakapan anaknya dari belakang, "Ayo sholat nak, jangan dengarkan omongan Rahmat, itu hanya ucapan syaitan!". Begitupun Adhin sama herannya "hu..dasar syaitan lu, ngga ada kapok-kapoknya!". 

Saat di Pesantren ini juga ada adegan yang bikin saya terharu yaitu adegan Rahmat yang menolong bapaknya saat terjatuh di kamar mandi. Rahmat dengan sigap membantu bapaknya duduk dan melap badan bapaknya. Terjadilah percakapan dan canda renyah yang singkat namun terasa hangat. Ini sangat jarang terjadi, karena biasanya mereka hanya terlibat perseteruan sengit.

Ketika sampai di Bandung, peserta Akhwat datang dengan menggunakan bus. Ki Zainal bermaksud untuk ikut serta melanjutkan perjalanan menggunakkan bus ini sampai Jakarta.

Ada tokoh akhwat yang membuat Rahmat terkesan. Dia adalah Yasna. Yasna adalah teman kecilnya Rahmat yang selama ini membantu merawat ibunya ketika sakit, sebelum akhirnya dipanggil Allah. Yasna adalah orang yang ringan tangan dan suka mendahulukan kepentingan sodaranya.

Yasna pernah melerai Abrar (adiknya) yang hampir memukul Rahmat karena ngga suka sama provokasinya Rahmat yang memojokkan ummat islam. "Abrar, Rahmat itu adalah kakamu juga, kamu ngga pantas bertindak kasar seperti itu! apalagi kamu adalah seorang muslim!". Dengan pembelaan Yasna, Rahmat semakin terkesima dengannya.

Singkat cerita, para peserta aksi damai 212 dari Ciamis sudah sampai Jakarta. Kembali saya bergetar mendengar pekikan Takbir "Allahu Akbar..Allahu Akbar, Allah maha besar". Pekikan ini seolah menjadi energi terbesar bagi para peserta Aksi. Tak peduli panas, tak peduli penat dan lelah mereka tetap semangat bergerak demi sebuah keadilan. 

Ribuan Orang datang dari berbagai penjuru Indonesia, Jakarta penuh dengan lautan manusia. Jika bukan karena iman dan kecintaan terhadap agamaNya, tidak mungkin semua ini terjadi bukan?! Walau segelintir orang di luar sana mengatakan ini adalah aksi bayaran namun ternyata hanyalah bualan belaka. Siapa yang mampu menyuap jutaan orang sebanyak itu? ngga ada.

Merindingnya lagi, dengan jutaan orang yang ikut beraksi, rumput Jakarta masih tertata rapi, hijau dan segar. Tak ada satupun sampah tergeletak karena mereka tidak ingin mengotori ibu kota. Pasangan Non Muslim yang akan menikahpun diberikan jalan untuk lewat dan dimuliakan. Jurnalis yang bertugas diberikan panganan. Kalau bukan karena iman, tidak mungkin ini terjadi bukan?! Inilah wajah ummat islam sebenarnya, santun dan damai.

Hal ini secara otomatis meruntuhkan anggapan Rahmat bahwa Aksi Damai 212 merupakan aksi makar untuk menggulingkan kekuasaan layaknya masa reformasi th 1998. Aksi yang diprediksi akan terjadi kerusuhan, keos dan peperangan antara warga sipil dengan pihak kepolisian dan TNI. Ternyata semua tak terbukti. Ini benar-benar AKSI DAMAI.

Kita datang ke sini karena cinta. Cinta yang menggerakkan jutaan orang untuk datang ke sini. Yang menggerakan hati manusia untuk mengenal cinta itu sendiri bukanlah manusia itu sendiri tapi Allah, Gusti Nu Agung (Asma' Nadia)

Kita yang bergerak karena iman insyaallah tidak akan mengedepankan kekerasan, jangankan keras terhadap manusia, menginjak rumputpun tidak, kita harus jaga bangsa (fulan, peserta aksi).

Puisi-puisi yang dibawakan oleh Oki Setiana Dewi pada film ini turut serta membuat jiwa ini semakin bergetar dan bangkit, Masya Allah.

Mendekati akhir cerita, Rahmat kehilangan jejak bapaknya ditengah kerumunan banyak orang. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya Ki Zaenal ketemu. Spontan Rahmat memaksa bapaknya untuk pulang. Bapaknya tetap teguh tidak mau! dan terjadilah perselisihan dan perdebatan sengit yang membuka luka lama kedua belah pihak. 

Selanjutnya apa yang terjadi? Sebenarnya ada masalah apa di antara Bapak dan Rahmat? Bisakah Bapak diajak pulang? Kenpa Rahmat begitu benci dengan islam? Bagaimana akhir dari aksi damai 212 ini? Bagaimana hubungan Rahmat dengan perempuan yang dia kagumi, Yasna? Bagamaimana hubungan Rahmat dengan Abrar? Dan bagaimana sikap Rahmat terhadap Islam setelah kejadian ini?

Penasaran? yuks segera nonton Film "The Power Of Love" di Bioskop-bioskop kesayangan sobat yaa :) Rasakan segera auranya, aura yang menggetarkan iman dan bisa meneteskan air mata keharuan namun membangkitkan jiwa. 
Alhamdulillah kita sudah nonton :)

Jadi gimana sobat, sudah bisa merasakan dahsyatnya kekuatan sebuah cinta hakiki dari review saya ini? :)

Wassalamu'alaikum..


Nb: 

Pemeran Utama: Fauzi Baadilla (Rahmat), Meyda Sefira (Yasna), Adhin Abdul Hakim (Adhin), Asma Nadia (bibi), Hamas Syahid (Abrar), Humaidi Abas (Ki Zainal)

Penampilan Khusus: Irfan Hakim, Oki Setiana Dewi, Peggy Melati Sukma, Arie Untung, Dimas Seto, Tommy Kurniawan, Neno Warisman

Sutradara: Jastis Arimba

Novel: Benny Arnas dan Helvy Tiana Rosa

Film ini terinspirasi dari : Aksi Damai 212






1 comment for "Review Film The Power Of Love: Dahsyatnya Kekuatan Sebuah Cinta Hakiki Bagi Jiwa Manusia"

  1. Love, peace and recpect..
    Semoga makin kompak dan tidak mudah kena hasut serta adu domba

    ReplyDelete