Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
sumber: dok.pribadi

Assalamu'alaikum..

Kali ini saya mau bercerita tentang jalan-jalan saya Ke Museum Kereta Api Ambarawa di era adaptasi kebiasaan baru ya temans. Mungkin kalau ada yang bertanya-tanya, "kenapa sih musim pandemi kaya gini masih bisa-bisanya jalan-jalan?". Bolehlah temans berkunjung ke artikel saya sebelum ini yaa untuk menemukan jawabannya, hehe. Kami memiliki pertimbangan dan antisipasi tersendiri saat memutuskan untuk berwisata saat pandemi seperti ini. Beberapa di antaranya, memastikan kondisi kami sekeluarga sehat, tidak naik kendaraan umum dan menerapkan protokol kesehatan serta pola hidup bersih dan sehat. Yaps Alhamdulillah kami memakai masker, bawa handsanitizer, bawa bekal makan sendiri, naik kendaraan pribadi serta berwisata tidak terlalu jauh dari rumah yaitu Jalan-jalan ke Wisata Kabupaten Semarang
Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Sumber: IG @pesona_kabsemarang

Tentu sebelumnya kami sudah menggali info terkait obyek wisata yang akan kami tuju, salah satunya obyek wisata tersebut sudah mendapat izin beroperasi dari pemerintah setempat. Obyek wisata tersebut sudah memperoleh rekomendasi uji coba operasional era adaptasi kebiasaan baru. Alhamdulillah tanggal 20 Agustus, kita akhirnya bisa berangkat menuju tempat ini. Alhamdulillah pas libur cukup panjang bertepatan dengan tahun baru islam dimana si kecil libur sekolah daringnya.


Kenapa kami memilih Museum Kereta Api ambarawa? karena anak-anak sangat antusias sama Kereta Api dan ayahnya cukup tertarik sama sejarah perkeretaapian Indonesia. Jadi sebenarnya Museum Kereta Api Ambarawa ini adalah obyek ke-2 yang kami kunjungi setelah sebelumnya kami ke Eling Bening. Sayang aja udah agak jauh naik motor dari Semarang, terus hanya ngunjungi satu obyek wisata. Sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui ceritanya, hehe. Kebetulan Museum ini, masih di satu Kecamatan dengan obyek wisata yang pertama kami kunjungi yaitu terletak di Kecamatan Ambarawa. 


Setelah muter-muter nyari alamat bermodalkan Gmaps dan tanya-tanya orang sekitar, Alhamdulillah akhirnya kami sampai di Museum ini sekitar Pkl. 13.30. Di luar Museum panasnya cukup menyengat, namun setelah memasuki gedung museum, hawa-hawa sejuk dan teduh mulai terasa dikulit. "Hm..nggak salah nih kita memilih tempat ini sebagai tujuan, benar-benar menenangkan dan nyaman banget", gumamku pada suami. Siang itu juga tidak terlalu rame Alhamdulillah.. Jadi kita bisa secara otomatis social distancing, hehe

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
(sumber: dok.pribadi)

Sebelum memasuki museum, kami terlebih dahulu mencuci tangan dengan sabun di tempat yang sudah disediakan oleh pengelola. Tempat cuci tangan ini berada di depan loket pembelian tiket museum. Setelah itu kami mengantri, untuk dilakukan pengecekan suhu tubuh. Petugas mengukur suhu tubuh kami dengan menggunakan termometer tembak (thermogun). Alhamdulillah, kami semua lolos untuk masuk dalam artian suhu tubuh kami semua di bawah 37,5ﹾC. Lalu kami mengantri untuk membeli tiket masuk. Alhamdulillah harga tiket masuknya ramah di kantong, orang dewasa hanya membayar Rp 10.000, sedangkan anak-anak usia 3-12 tahun cukup bayar Rp 5000, murah kan?hehe. Tak butuh waktu lama untuk mengantri, akhirnya kami bisa memasuki Museum dengan happy, yeaahhh.

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
(sumber: dok.pribadi)

Pertama masuk museum, melihat bangunan kuno yang berdiri gagah, sejuk hawanya, saya jadi ingat Lawang Sewu. Yaa iyalah wong dua-duanya dahulu sama-sama yang bangun Orang Belanda. Bedanya Lawang Sewu merupakan Kantor Perkeretaapian Indonesia, sedangkan Museum Kereta Api Ambarawa merupakan Stasiun Kereta Api Indonesia masa itu. Melihat jalan yang lengang (sepi), anak-anak langsung berlarian. Ayahnya sibuk foto-foto dan baca Sejarah Perkeretaapian Indonesia yang terdapat di dinding Museum. Mau nggak mau, saya harus ngalah untuk momong anak-anak sembari sesekali membaca sejarah singkatnya perketaapian di indonesia dari Zaman Pra Kemerdekaan- Sekarang.

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Si kaka udah jauh berlari hihi (sumber: dok.pribadi)

Setelah membaca sepintas tentang Sejarah Kereta Api di Indonesia, jadi merefresh kembali pelajaran sejarah semasa sma dulu. Jadi ingat, kita berjuang melawan penjajahan Belanda hampir 3,5 abad lamanya. Perjuangan yang sangat lama yaa temans. Kulihat foto di dinding museum, rakyat Indonesia dipekerjakan untuk membangun jalan kereta api beratus-ratus kilometer tanpa bayaran dan jaminan kesejahteraan tentunya. Benar-benar rakyat Indonesia diperas keringatnya dan menjadi budak di negaranya sendiri :(.

Setelah mengamati satu demi satu foto yang tertera, kemajuan perkeretaapian dari masa ke masa yang tentunya tak lepas dari perjuangan para pendahulu, semoga bisa diarahkan untuk kesejahteraan rakyatnya dan kemajuan bangsanya. Sehingga rakyat bisa hidup ayem tentrem dan sejahtera di negerinya sendiri. 

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Kereta Api Kuno yang Masih Tetap Berdiri Gagah (sumber: dok.pribadi)

Sementara di sebelah kanan terpampang Sejarah Kereta Api di Indonesia, di sebelah kiri terdapat Kereta api dengan lokomotif uap dan diesel yang masih bisa dioperasikan. Kereta api dengan bentuk yang berbeda dari kereta api zaman sekarang. Kereta api tua ber-cat hitam yang masih terlihat gagah. Namun sayang, semenjak pandemi kereta api ini tidak bisa beroperasi seperti dahulu, kecuali jika ada yang mau menyewa satu rangkaian kereta, itupun harus tetap membatasi jumlah penumpang. Iya dulu sebelum pandemi, kereta api ini beroperasi hari sabtu, minggu dan setiap hari libur hari besar.

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
     Kaya gini aja udah seneng banget :)  
 (sumber: dok.pribadi)

Melihat ada kereta yang berdiri gagah, si kecil udah merajuk terus minta naik, nggak apa-apalah walaupun keretanya nggak jalan yang penting naik yaa nang :). Oh iya di masa pandemi ini, Museum Kereta Api Ambarawa melakukan pembatasan pada jam kunjungan . Dulunya Museum ini buka setiap hari senin-minggu pkl 08.00-17.00 WIB, namun kini menjadi lebih singkat setiap hari senin-minggu pkl. 09.00-16.00 WIB.

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Tempat Favorit anak-anak hihi   (sumber: dok.pribadi)

Tempat ini cocok banget dikunjungi bagi kalian yang suka akan wisata sejarah temans. Tak banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang sejarah karena keburu anak-anak lihat perosotan dan minta main, hiks beginilah emak-emak yaa. Ngga apa-apalah, yang penting anak-anak senang dan kita menikmati. Dan setidaknya setelah dari sini saya jadi merenung tentang perjuangan para pendahulu di masa kekuasaan Belanda :(. 

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
(sumber: dok.pribadi)

Di museum ini pengunjung selalu diingatkan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, pengelola sudah memasang beberapa poster dan banner di beberapa titik salah satunya di dekat play groundnya anak-anak. InsyaAllah kita berusaha menaati peraturah yang ada Pak :).

Selagi anak-anak main di play ground, tetiba ada kereta kelinci/ kereta mini lewat, spontan anak-anak minta ikutan naik dong. Akhirnya kita membeli tiket untuk pemberangkatan selanjutnya. Tiket per-orang dihargai Rp 10.000, kami membeli 3 tiket karena si adek belum usia 3th jadi belum kena cas. Alhamdulillah hemat sepuluh ribu, dasar emak-emak suka perhitungan :D. Alhamdulillah kita dibawa muter-muter museum sampe 5x putaran lo,  sampe anak-anak puas hihi .

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
(sumber: heriheryanto.com)

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, suara Adzan Ashar sudah terdengar. Kakipun sudah terasa lelah untuk berjalan, kami memutuskan untuk pulang. Namun tetiba si ayah keiinget tongsis, mulailah kita membongkar tas dan hasilnya nihil. Akhirnya ayahnya muterin lagi tuh museum, sedangkan kami leyeh-leyeh duduk di bawah pohon, maaf yaa yah ngga ikut nyari, kaki rasanya udah lemes buat jalan hehe. Perjuangan ayah nyari tongsing belum berhasil, si tongsing harus kami ikhlaskan biar kami tenang. Semoga nanti dapat ganti yang lebih baik ya yah.

Sebelum pulang, kami memutuskan untuk mampir di masjid terdekat untuk sholat ashar sekaligus makan siang yang tertunda. Alhamdulillah kami bawa bekal jadi bisa lebih terjaga kebersihannya dan lebih hemat, tetep :). Sebelum melanjutkan perjalanan yang cukup panjang, saya meneguk sebotol kecil kopi instan terlebih dahulu supaya nggak ngantuk. Bisa bahaya kalau ngantuk di motor bawa anak. Dan benar, anak kami dua-duanya tertidur di motor saat perjalanan pulang, yaa memang lelah sih. Kami berdua menahan mereka, MasyaAllah pegelnya sampe kesemutan.. kelak ini akan menjadi kenangan yang tak kan terlupakan.

Alhamdulillah setelah 1,5 jam perjalanan kami sampe rumah. Sehabis itu mandi, dan langsung menemani si kaka mengerjakan tugas sekolahnya. Walau lelah si kaka tetap semangat, energi pikniknya masih terasa. "Ummi..aku seneng banget jalan-jalan jauh kaya tadi, kapan-kapan lagi yaa", ucapnya. "InsyaAllah, tapi kaka yang semangat belajarnya ya", jawabku. "Iya ummi", jawab kaka.

Alhamdulillah.. semoga piknik kita membawa energi positif dan menjadikan kita team yang kompak yaa.. Aamiin. Gimana temans seru kan jalan-jalan kami kali ini ke Museum Kereta Api Ambarawa?!. Kalau kamu mau piknik juga, tetap laksanakan protokol kesehatan serta pola hidup sehat dan bersih yaa. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua..Aamiin. Cukup sekian yaa cerita saya, semoga ada hal bermanfaat yang bisa diambil

Wassalamu'alaikum..


2 comments for "Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru"

  1. Sama nih. Habis wisata ke Museum KA Ambarawa era new normal. Sudah siap banget mereka..

    Jika senggang silakan kunjung balik ke blog saya ya!
    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ternyata banyak yg tertarik utk mengunjungi museum ini ya

      Delete