Thursday, June 7, 2018

Ambil Peranmu Sekarang Juga, Demi Sebuah Takdir Kejayaan Bangsa

Foto: Nia Nurdiansyah

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Senin (4/6/18), kami para blogger berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh @Sembutopia bekerjasama dengan @TitikTengahPartnership dalam rangka memperingati hari Tanpa Tembakau Sedunia #WorldNoTobaccoDay2018 yang jatuh pada tanggal 31 mei, bertempat di Aston Semarang Hotel & Convention Center. Sembutopia sendiri merupakan sebuah gerakan dengan fokus utama pada isu-isu kesehatan di Indonesia. Sembutopia didirikan oleh orang-orang yang peduli akan kesehatan yang tidak hanya fisik tetapi juga mental. Salah satu pendirinya adalah Pak Kafi Kurnia, beliau merupakan pakar marketing dan motivator terkenal.

Salah satu hal yang dilakukan oleh Sembutopia adalah dengan mengkampanyekan hidup sehat kepada seluruh masyarakat indonesia dengan menggunakan platform sosial media baik IG, Fb maupun Twitter. Amazingnya, baru 6,5 bulan berdiri sejak November 2017, follower IGnya sudah menembus angka 56.000. Semoga dengan ini, akan semakin banyak orang yang tersadarkan dan tergerak hatinya untuk ikut serta mengkampanyekan gaya hidup sehat. Sayapun sangat tertarik untuk mengikuti acara ini, saat pertama kali ada undangan dari seorang sahabat blogger. 
Pemaparan Materi Oleh Pak Kafi Kurnia
Kampanye Hidup Sehat sangatlah penting dilakukan secara masif, harapannya ini bisa menjadi gerakan penyadaran bagi Masyarakat Indonesia. Apalagi, kesadaran akan hidup sehat pada masyarakat kita masih minim. Maunya sehat, tapi sayng baru sebatas omongan belaka belum sampai pada tindakan nyata. Maunya sehat, tapi tetap merokok. "Baru deh setelah terkena batunya alias sakit, baru tersadar dan bertobat", Kata Pak Kafi. 

Jadi nggak mempan tuh peringatan yang tertera di bungkus rokok: Merokok Membunuhmu atau Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin, kalau belum ditakdirkan terkena penyakit tersebut hiks. Padahal, dampaknya bagi orang-orang sekitar yang ikut menghirup asap rokok ini (perokok pasif), malah jauh lebih merugikan. Gimana tidak, kita yang tidak merokok, malah terkena dampaknya dan terkadang jauh lebih mengerikan dari para perokok itu sendiri. 

Siapa yang tidak prihatin membaca dan melihat berita di atas?! Saya sendiri sebelumnya pernah membaca berita ini di timeline Fb. Sontak saya langsung berkaca-kaca dan memeluk dan menciumi buah hati saya yang sedang tertidur saat ini. Hati ibu mana yang tidak tercabik melihat kejadian ini?! Seorang bayi baru lahir terkena pneumonia sangat berat, hampir semua paru-parunya berwarna putih, mengalami sesak nafas parah dan akhirnya berujung pada kematian.

Semua ini berawal saat sang bayi ikut menghirup asap rokok pada saat aqiqahannya. Saya sendiri ko yo jadi ikut jengkel sama bapak yang sembarangan ngerokok di ruangan tempat aqiqah tersebut berlangsung. Mbok yaa berhenti dulu, apalagi ada anak bayi di situ atau keluar dari ruangan kalau udah nggak tahan buat menghisap! hiks. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Curhatan Saya Tahun Lalu, @RelitaAprisa

Saya sendiri sering sebel kalau ketemu orang merokok di tempat umum, padahal jelas-jelas ada anak balita di situ. Kami sampai pindah-pindah tempat duduk dari satu kursi ke kursi yang lain, tapi selalu saja ada yang merokok. Herannya ko yo mereka biasa-biasa saja tanpa ada rasa nggak enak atau gimana gitu. Sekalipun saya sudah mencoba memperlihatkan kalau saya nggak nyaman, begitupun balita saya sudah saya suruh tutup hidung. Ingin rasanya kabur dari warung tersebut, tapi ko hujan lagi deras-derasnya di luar, nggak bawa payung atau mantel lagi.

Sedihnya lagi saya menyaksikan sendiri ada beberapa anak di bawah umur yang sedang asyik merokok saat itu, astaghfirullah dalam hati hanya bisa berdo'a semoga anak keturunan saya dijauhkan dari merokok, dan anak-anak tadi segera dapat hidayah, Aamiin. 

Kenapa hal ini bisa terjadi? Menurut Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak, sebuah organisasi yang membela hak-hak anak, menyebut berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes 2013, "hampir 80% perokok, yang jumlah totalnya sekitar 16 juta, memulai merokok pada usia di bawah 19 tahun."
Angka-angka tersebut menurut Lisda "sangat mengkhawatirkan". Dia bertutur banyaknya perokok anak, karena banyak pula 'model perokok' di sekitar mereka. Astaghfirullahaladzim, kalau kaya gini, bagaimana nasib generasi bangsa kedepannya?

Yaps memang benar adanya, anak adalah peniru terbaik. Mereka bisa mencontoh orang tua, guru, kakak atau teman bermain yang sering berinteraksi dengan mereka. Kondisi tersebut membuat merokok seolah-olah adalah sebuah hal yang wajar dilakukan oleh orang dewasa, dan memberi kenikmatan sampai tingkat kecanduan.

Selain itu, akses anak-anak untuk mendapatkan rokok di Indonesia juga "sangat mudah". "Mereka bisa membeli rokok di mana saja. Rokok bisa dibeli dengan harga cuma Rp 1.000/ batang. Bahkan bisa lebih murah dari itu. Atau malah bisa dapat gratisan dari teman, hiks. Siapa yang nggak tergiur coba? Apalagi karakter anak-anak memiliki rasa penasarannya yang tinggi. Sekali dibiarkan dan sekali bisa merasakan kenikmatan merokok, maka untuk lepas darinya bukanlah hal yang mudah.

Lisda menegaskan tingginya jumlah perokok anak itu bisa 'mengancam masa depan Indonesia'. "Dampak merokok baru akan mereka rasakan 10-15 tahun mendatang. Kita bisa bayangkan nanti tahun 2030an, ketika Indonesia menikmati bonus demografi banyaknya masyarakat usia produktif, mereka malah sakit-sakitan.",ungkapnya.

Kalau kamu mau Indonesia berubah, mulailah dengan mendidik anakmu sendiri supaya tidak merokok, kata Pak Kafi Kurnia.
Menurut saya, kalau sudah seperti ini, semua pihak harus ambil peran supaya bisa menekan jumlah perokok. Tak hanya orang tua, guru atau Lsm tapi pemerintah selaku pemegang kebijakan tertinggi harus tegas terhadap hal ini! Ingatlah, generasi bangsa sedang dipertaruhkan! Tak apalah mengambil resiko yang cukup besar seperti terjadi penurunan penerimaan cukai untuk APBN, kan bisa dicari sumber pemasukan yang lain, bukannya Indonesia itu kaya, baik SDM dan SDAnya?

Kita juga memiliki Jejak Kejayaan di Masa Lampau. Alangkah baiknya jika kita mengambil pelajaran darinya dan menerapkannya di masa sekarang. Dengan bermodalkan warisan nenek moyang kita, mulai dari tradisi, budaya, sejarah dan kearifan lokal, lalu berupaya untuk memberdayakan warisan itu sehingga menjadi prestasi yang membanggakan. 

Atau jika alasannya bagaimana buruh yang bekerja di Industri Rokok bisa hidup? bagaimana buruh tembakau dapat penghasilan? Mulai sekarang, pikirkan dan buatkan lapangan pekerjaan baru, bukankah selalu ada jalan bagi sebuah tujuan yang mulia? InsyaAllah bisa, where there's a will there's a way.

Bisa jadi, Indonesia belum bisa mencapai Takdir Kejayaan karena bangsa kita belum mempunyai visi yang mampu mengantarkan Indonesia Ke Gerbang Kejayaan, kata Pak Kafi Kurnia.
Saya pribadi sangat sepakat dengan wacana yang baru-baru ini sedang berkembang, yaitu soal kenaikan harga rokok di Indonesia Rp 50.000/ bungkus dan tidak boleh dibeli bijian. Semoga dengan kebijakan ini akan mengurangi kemudahan untuk mendapatkan rokok yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah perokok terutama perokok pemula.

Mari bersama-sama menyembuhkan Indonesia, demi Kejayaan Bersama. Tentukan peranmu sekarang juga! Mau menjadi bagian yang menyadarkan para perokok dengan mengkampanyekan hidup sehat atau menjadi bagian yang mengedukasi dan menyembuhkan para perokok dengan terapi yang terpercaya atau menjadi bagian yang membuat regulasi demi terciptanya habitat yang sehat dan nyaman, dll ? Apapun itu, pilihlah sesuai passion kita dan lakukanlah dengan ikhlas.

Masa depan bangsa ditentukan oleh peran kita semua tanpa terkecuali!:) Jangan mimpi Takdir Kejayaan Itu Akan terwujud, jika kita hanya menjadi generasi-generasi yang berpangku tangan. :(

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

#Sembutopia
#WorldNoTobaccoDay
#Indonesia2020







10 comments:

  1. Aku punya anak laki-laki. Kekhawatiranku jika sudah berkenalan dengan rokok akan membuka pintu ke barang-barang terlarang lain. Makanya aku cerewet banget ngingetin ke anak supaya nggak usah kenalan sama rokok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jg kepikiran n khawatir mba, nnt kalau anak laki2ku gede,aku harus bisa memahamkannya biar tdk merokok

      Delete
  2. Sedari dini kita bisa mengajak bicara anak-anak tentang bahaya merokok mba. Alhamdulillah anak-anakku nggak tertarik merokok, krn mereka udah tahu bahayanya sejak kecil. Bahkan dulu sering menyuruh Omnya berhenti merokok

    ReplyDelete
  3. Senewennya aku tuh benci rokok tp kl ada cow yg ijin ngrokok kok ya aku iyain. Duh piye susah untuk ga rikuh

    ReplyDelete
  4. Aku setuju sih kalau salah satu cara supaya perokok berkurang ya dgn mendidik anak2 kita untuk ngga merokok

    ReplyDelete
  5. Semoga langkahku untuk mengedukasi anak2 ttg bahaya rokok bisa istiqomah, Mbak. Ya, karena aku sangat prihatin dengan jumlah perokok yg tiap tahun selalu meningkat.

    ReplyDelete
  6. Miris ya mbak dibawah umur yg plg banyak
    Smg rokok dinaikkan betul harganya

    ReplyDelete
  7. Ngelawan orang merokok sembarangan emang ga bisa pake bahasa tubuh, Cha. Kudu bilang langsung kalau asapnya bikin sesak napas. Kalau enggak kebangeten pasti dia bakalan matiin rokoknya. Ikut kesel deh kalau ada orang yg ga tau diri ngerokok sembarangan meski ada anak-anak di dekatnya :(

    ReplyDelete
  8. Setuju..peran keluarga penting untuk membentuk karakter anak..mau jadi baik atau buruk..

    ReplyDelete

Terima kasih telah sudi berkunjung. Jika berkenan mohon tingalkan komentar terkait tulisan atau tampilan blognya. Jika dirasa info ini bermanfaat dan ingin berlangganan silahkan follow blog saya ya. Tolong jangan meninggalkan link hidup. Semoga bermanfaat.